Julukan Tanah Deli Merupakan Asal Usul Kota Medan

admin
Senin, 24 Maret 2025 - 14:21
18 kali dibaca
Icon Kota Medan. (foto : dok) 

Mediaapakabar.com
- Setiap tanggal 1 Juli Kota Medan memperingati hari jadi atau lazim disebut hari ulang tahun (HUT). Dan pada tahun ini usia kota terbesar nomor tiga di Indonesia itu dalam perayaannya nanti dengan merayakan hari jadi yang ke-431.  

Kota Medan dikenal sebagai kota metropolitan terbesar setelah Jakarta dan Surabaya. Kota ini menyimpan banyak keberagaman etnis dan budaya yang hidup saling berdampingan selama ratusan tahun.

Dulu, Kota Medan dijuluki sebagai 'Paris van Sumatra' karena memiliki keasrian dan bentuk bangunan gaya Eropa.
Selain itu, sebagai pintu gerbang Indonesia bagian barat, Kota Medan menjadi pusat perdagangan, industri dan bisnis yang multikultur sejak zaman Hindia Belanda hingga sekarang.

Melansir dari laman Pemerintah Kota (Pemkot) Medan, berikut sejarah awal mula terciptanya nama Kota Medan.

Kota Medan itu dulunya berupa tanah yang berawa dengan luas kurang lebih 4.000 hektare. Beberapa sungai yang melintas di Kota Medan seperti, Sei Deli, Sei Babura, Sei Sikambing, Sei Denai, Sei Putih, Sei Badra, Sei Belawan dan Sei Sulang Saling/Sei Kera. Yang semua sungai itu bermuara ke Selat Malaka.

Dulunya, Kota Medan dijuluki dengan Tanah Deli. Orang pertama yang membuka perkampungan Medan bernama Guru Patimpus. Karena itu lah, sampai sekarang sebagian orang masih ada yang menyebut Kota Medan dengan sebutan Medan Deli. Namun, istilah Medan Deli tersebut secara berangsur-angsur hilang karena kurang dikenal. 

Orang dahulu menamakan Tanah Deli mulai dari Sungai Ular di Kabupaten Deli Serdang sampai ke Sungai Wampu di Kabupaten Langkat. Sedangkan Kesultanan Deli yang berkuasa pada waktu itu, wilayah kekuasaannya tidak mencakup daerah di antara kedua sungai tersebut.

Perkampungan Medan yang didirikan oleh Guru Patimpus itu kemudian dinamakan Medan Putri. Kampung tersebut lokasinya sangat strategis, karena terletak di pertemuan Sungai Deli dan Sungai Babura. Sehingga kampung Medan Putri itu dulunya merupakan jalur lalu lintas perdagangan yang cukup ramai.

Namun sekitar 1612, setelah dua dasa warsa berdiri Kampung Medan Putri, Sultan Iskandar Muda yang berkuasa di Aceh mengirim Panglimanya bernama Gocah Pahlawan untuk menjadi pemimpin yang mewakili kerajaan Aceh di Tanah Deli. 

Gocah Pahlawan berhasil memperluas wilayah kekuasaannya, sehingga meliputi Kecamatan Percut Sei Tuan dan Kecamatan Medan Deli sekarang. Ia juga mendirikan kampung-kampung Gunung Klarus, Sampali, Kota Bangun, Pulau Brayan, Kota Jawa, Kota Rengas Percut dan Sigara-gara. 

Selama masa pendudukan Gocah Pahlawan, seluruh wilayah kekuasaannya, tak terkecuali Kampung Medan Putri berkembang menjadi lebih maju. Setelah wafat pada 1653, Gocah Pahlawan digantikan oleh puteranya, Tuangku Panglima Perunggit, yang kemudian memproklamirkan kemerdekaan Kesultanan Deli dari Kesultanan Aceh pada tahun 1669.

Pesatnya perkembangan Kampung Medan Putri saat itu, juga tidak terlepas dari perkebunan tembakau yang sangat terkenal yang ada di Tanah Deli. Pada 1863, Sultan Deli memberikan kepada Nienhuys Van der Falk dan Elliot dari Firma Van Keeuwen en Mainz & Co, tanah seluas 2.960 hektare untuk kebun tembakau. 

Maret 1864, contoh hasil panen dikirim ke Rotterdam di Belanda untuk diuji kualitasnya dan ternyata daun tembakau tersebut sangat baik dan berkualitas tinggi untuk pembungkus cerutu.Perkebunan dan perusahaan tembakau di Tanah Deli ini pun kemudian berkembang pesat. 

Tahun 1874, setidaknya ada 22 perusahaan perkebunan tembakau yang ada di Tanah Deli.Mengingat kegiatan perdagangan tembakau yang sudah sangat luas dan berkembang, Kampung Medan Putri pun menjadi semakin ramai dan kemudian berkembang dengan nama yang lebih dikenal sebagai 'Kota Medan'. (MC/ZF) 

Share:
Komentar

Berita Terkini